Minggu, 15 April 2018

Renyahnya Isu Hate Speech dan Penodaan Agama, Dari Ahok sampai Rocky Gerung



Beberapa waktu belakangan ini, publik tidak henti-hentinya digegerkan oleh isu hate speech dan penodaan agama. Bermula dari kasus yang sangat besar yakni penodaan agama oleh Ahok hingga berujung pada unjuk rasa di Monas, sampai Rocky Gerung di acara televisi swasta beberapa hari yang lalu. Walaupun Rocky Gerung yang memberikan pernyataan bahwa Al Qur’an adalah fiksi belum ditetapkan sebagai seseorang yang melakukan hate speech atau penodaan agama, namun, statmennya telah membuat gaduh natizen di media sosial. 

‘Islam’ sebagai agama mayoritas di Indonesia cukup signifikan menjadi isu utama. Dulu sebelum reformasi, perkembangan Islam belum begitu signifikan. Berbeda dengan sekarang, dimana ormas Islam sudah banyak bermunculan, partai Islam sudah semakin banyak dukungan, artis yang berubah lebih Islami juga semakin banyak, dan para alim ulama sudah mendapatkan tempat di hati masyarakat luas.

Tidak bisa dipungkiri, isu yang berkaitan dengan Islam lebih mudah digoreng oleh media. Banyak perhatian masyarakat terfokus pada isu-isu tersebut. Bagi umat Islam, hal ini wajar karena menyangkut prinsip hidup dan kepercayaan yang mereka yakini. Sehingga, mereka akan memberikan perhatian pada isu-isu tersebut.

Isu hate speech dan penodaan agama yang akhirnya menjadi wabah di masyarakat setidaknya telah menimbulkan beberapa keresahan sebagai berikut:


  1. Masyarakat dengan mudah saling menghakimi
  2. Timbul kebencian antar penganut agama
  3. Munculnya sifat provokatif dibanding solutif
  4. Keresahan berbagai elemen masyarakat

Penganut agama tidak bisa disalahkan karena isu ini. Apa yang mereka lakukan merupakan respon kejadian yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan. Penganut agama yang taat tentu akan rela mati demi membela akidahnya. Hanya saja, sangat disayangkan jika masyarakat merespon dengan  provokatif.

Ada sebuah pribahasa mengatakan tidak akan ada asap jika tidak ada api. Masyarakat tidak akan gaduh jika tidak ada oknum yang memantik api sehingga dapat menyulut kemarahan. Mungkin tepat jika masyarakat tidak diperbolehkan berbicara perihal agama jika mereka tidak mengerti dan benar-benar memahaminya. 

Akal manusia yang dianggap sebagai dewa terkadang membuatnya tinggi hati dengan mudah membicarakan hal-hal yang tidak diketahui secara menyeluruh, sehingga mengakibatkan pro dan kontra (kegaduhan) di masyarakat.

foto: breitbart.com

Isu yang menyinggung agama, bisa menjadi isu yang menyebabkan perpecahan di masyarakat jika masyarakat rentan diadu domba oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Isu ini tidak jarang digunakan sebagai dalih politik, sehingga semakin renyah disantap oleh masyarakat. Mungkin, masyarakat tidak pernah tahu agenda setting yang telah dibuat dibalik isu hate speech dan penodaan agama. Tentunya, ada oknum yang akan meraih keuntungan dari beredarnya isu tersebut.

Penangkapan para pelaku hate speech dan penodaan agama tidak membuat jera para oknum yang terus membuat hate speech dan penodaan agama dalam bentuk baru. Saya selalu berfikir apa yang mereka dapatkan dari tindakan tersebut, agar mereka dapat lebih terkenal atau mereka dapat kompensasi lain dari agenda tersebut?

Menurut Max Weber untuk mencapai tata tertib dan ketertiban, pihak yang berwenang dapat melakukan paksaan sebagai hukuman. Namun, paksaaan atau hukuman yang telah dilakukan kepada beberapa pelaku hate speech dan penodaan agama tidak juga membuat masyarakat jera. Oleh sebab itu, pendidikan masyarakat penting dilakukan untuk mencegah terjadinnya hate speech dan penodaan agama kembali terulang. 

Siapa yang bertanggungjawab dalam hal ini, tentu saja tidak hanya pemerintah, media juga berperan besar dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat. Selain itu para tokoh dan influencer juga dituntut untuk memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. 

foto: arrahmahnews.com

Sebagai natizen, bijaklah dalam merespon berbagai isu khususnya isu yang menyinggung persoalan agama. Tidak pantas jika kita mengaku beragama dan mengamalkan pancasila menjawab isu dengan emosi dan arogansi. Isu hate speech dan penodaan agama setidaknya membuka mata dan hati kita untuk memahami agama secara lebih mendalam. Agar kita tidak mudah terprovokasi dan menebar kebencian, jagalah kesatuan NKRI.

Jilbab dan Peringatan Hari Kartini di Mall Boemi Kedaton




foto: Fitri Juliana Sanjaya
Setiap tahun berbagai elemen masyarakat Indonesia memperingati hari kelahiran Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini) yang jatuh pada tanggal 21 April. Sosok pejuang emansipasi wanita ini mejadi tokoh dan simbol perjuangan. 

Saat SMP, sekolah saya dulu sering memperingati hari Kartini dengan mengadakan parade busana nusantara. Sosok Kartini tidak hanya digambarkan sebagai wanita jawa bersanggul, tetapi wanita di seluruh penjuru nusantara dengan kekhasan gaun dan busananya. 

Saat SMA, pemaknaan hari kartini semakin luas. Dimana sosok Kartini tidak hanya digambarkan sebagai wanita dengan khas budayanya, tetapi wanita dan perannya dalam dunia kerja. Para siswa SMA diminta menggunakan busana profesi dan memaknai peran profesi yang dipilihnya. Sosok Kartini adalah wanita yang memiliki persamaan hak dengan pria di bidang pekerjaan. Kartini boleh melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pria, Kartini juga mendapatkan hak yang sama dengan pria dalam bidang tersebut. 

Pemaknaan hari Kartini semakin mengalami perkembangan. Saat ini banyak acara-acara kreatif ditujukan untuk memperingati hari Kartini. Salah satunya terlihat dalam Fashion and Food yang diadakan di Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung.  Acara tersebut merupakan bazar baju dan makanan, dan juga tidak ketinggalan parade busana yang semakin memeriahkan acara.

Berbagai model busana dan kuliner dijajakan di acara tersebut. Parade busana rancangan designer Lampung ini menjadi satu hal yang cukup melegakan. Pasalnya, busana yang ditampilkan tidak hanya busana-busana terbuka, tetapi juga ada busana syar’i khas muslimah. Sebagai muslimah saya cukup senang karena keberadaan saya terasa terwakili. 

foto: Fitri Juliana Sanjaya
 Perkembangan model busana muslimah memang terbilang cukup cepat. Hal ini menandakan semakin banyaknya permintaan fashion dari kalangan wanita muslim tersebut. Acara tersebut memperlihatkan bahwa, sosok Kartini tidak lagi dimaknai sebatas wanita dan konde tetapi wanita dan fashion kekinian, salah satunya jilbab syar'i.

OPPO F5, Camera Selfie For Travelers (OPPO Selfie Tour with F5)

OPPO F5 Camera Selfie For Travelers Hallo sobat! Cerita tetang HP emang gak ada habisnya. Selalu saja ada teknologi baru yang di...