Selasa, 12 Desember 2017

4 Alasan Gabung FLP


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memutuskan gabung dengan FLP atau tidak. Karena, setidaknya aku sudah tahu reputasi dan kredibilitas FLP dalam mencetak kader-kader penulis ternama. Seperti Helvi Tiana Rosa, Asmanadia, Habiburahman El Sirazy, Gola Gong dan sederet penulis ternama lainnya. Usiaku tidak begitu muda saat aku memutuskan untuk ikut latihan kepenulisan FLP. Umur 25 tahun tentu jauh berbeda dibandingkan dengan umur siswa-siswa SMP yang pada saat itu juga mengikuti pelatihan yang sama. Tapi bagiku, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan yang paling penting, dengan bergabung dengan FLP, aku bisa menjadi penulis produktif, mengikuti jejak-jejak penulis ternama lainnya. So, aku mau berbagi pengalamanku selama ikut latihan kepenulisan FLP.

4 hal ini bisa bikin kamu pengen jadi anggota FLP

1. Egaliter
Tidak seperti organisasi pada umumnya, FLP tidak mengenal senioritas. Siapapun anggota FLP baik anggota baru maupun lama dapat saling akrab seperti saudara. Di FLP, tidak akan ditemukan perpeloncoan dan pelecehan, apalagi memandang sebelah mata para peserta. Semua karya dihargai dan terus didukung untuk menjadi karya yang lebih baik lagi. Ini sesuai dengan tiga pilar FLP yaitu keislaman, kepenulisan dan keorganisasian yang semuanya bersinergi satu sama lain.

2. Batu Akik
Untuk menjadi penulis produktif, setidaknya penulis pemula  harus melakukan tiga hal yaitu Bacaa, Tulis, Aktif, dan Kirim, yang disingkat mb Fitri Restiani sebagai BaTu AkIk. Sebagai seorang penulis, membaca adalah kegiatan wajib. Dengan membaca penulis akan kaya dengan kosa kata dan diksi. Hal ini membuat tulisan terasa lebih indah dan menarik. Tidak cukup disitu saja. Kalau sudah bisa menulis karya tapi tidak aktif alias tidak konsisten alias mood-moodan untuk menulis, tentu belum bisa dikatagorikan sebagai penulis produktif.
Aku bergabung dengan FLP bukan berarti aku tidak bisa menulis. Sejak SMA aku sudah aktif menulis di buletin sekolah. Aku pernah berkontribusi dalam kepenulisan cerpen antologi. Aku juga menulis dibeberapa blog, seperti dakwatuna, kompasiana, dan blog pribadi. Lalu untuk apa aku bergabung dengan FLP? 

Kelemahanku ada pada konsistensi menulis. Aku tidak pernah bisa membuat buku, padahal ada lebih dari lima karyaku yang hampir jadi. Tapi tidak pernah sungguh-sungguh jadi dan bisa diterbitkan. Aku selalu kehilangan mood untuk menyelesaikan tulisan. Kalaupun ada, aku akan menulis topik baru, karena terkadang jemu dengan topik sebelumnya. Kalau tidak ada mood, tulisan itu akan dibiarkan begitu saja tanpa ada endingnya. 

Mood dan konsistensi menulis bisa ditemukan di komunitas. Komunitas yang akan menjaga mood kita tetap stabil. Komunitas jugalah yang akan menjaga semangat menulis kita yang kalau sendiri up and down. Selain itu, kita juga butuh jaringan untuk bisa menerbitkan atau mengirim karya-karya kita. Dengan bergabung dengan FLP berarti kita sedang membuat jaringan ke berbagai penerbit yang kita harapkan suatu saat dapat menerbitkan karya-karya tersebut.

3. Foto
Foto adalah singkatan dari fokus, teliti, dan obejektiv. Lagi-lagi singkatan ini aku dapatkan dari mb Fitri Restiani. Beliau merupakan salah satu pemateri di Latihan Kepenulisan yang sudah menerbitkan puluhan buku. Beliau adalah bloger dan termasuk penulis produktif. 

Pada latihan kepenulisan FLP, peserta digiring untuk menemukan bakat menulisnya. Ada cerita lucu yang kualami saat latihan kepenulisan FLP. Saat SMA aku termasuk orang yang puitis. Namun, di awal kuliah tahun 2010, saat itu sedang marak-maraknya kata ‘alay/lebay’. Teman-temanku sering menyebutku alay dan lebay karena kata-kataku yang puitis dan terkesan hiperbola. Semenjak saat itu aku mulai mengurangi bacaan-bacaan sastra. Aku mulai suka bacaan-bacaan non fiksi yang terkesan tegas dan lugas dalam pemilihan katanya. Buku yang saat itu aku sangat suka adalah buku dengan judul “Jangan Sadarin Cewek”. Buku yang benar-benar ceplas-ceplos dan blak-blakan. Ditambah bacaan buku-buku pergerakan yang membuatku semakin kehilangan selera terhadap kata-kata puitis. 

Di latihan kepenulisan FLP, semua tulisan wajib dicoba oleh peserta. Agar peserta tahu dimana bakatnya. Akupun mencoba menulis puisi. Sayangnya, aku tidak ingat lagi dengan kata-kata puitis. Puisi yang kubuat pada hari itu juga, mendapat kecaman yang tidak menyenangkan. Hoho, tidak separah itu sih. Hanya, pemateri mas Angga Adhitya harus berkomentar panjang lebar tetang puisiku dan peserta lain. Ini bukan passionku gumahku dalam hati. Walau begitu, aku jadi ingat kembali tentang puisi-puisiku yang dulu. Dan setelah materi itu, aku jadi tahu dimana letak kesalahan-kesalahan puisi yang dulu aku buat. Sedikit berbagi info, sebenarnya, ada kata pamungkas dari mas Angga Adhitya, “bisa berpuisi jika sering membaca puisi”. Ini adalah pesan yang wajib diingat baik-baik.


4. Murah
Dimana lagi bisa mendapatkan pelatihan menulis dari pemateri hebat dengan biaya murah dan gratis latihan kepenulisan seumur hidup bareng komunitas FLP. Cuma di FLP.

Pada akhirnya, setelah latihan kepenulisan tersebut, aku ingin segera menulis dan menerbitkan suatu karya. Banyak ide yang bermunculan bersama semangatku yang masih menggebu. Tapi dengan kesibukanku sebagai dosen yang seminggu lagi jurusan tempatku mengajar akan mengadakan akreditasi. Hambatan seakan ada di depan mata. Oh, tapi aku tak perlu risau. Karena sekarang aku sudah memiliki komunitas yang akan menjaga semangat dan konsistensiku dalam menulis. Dia lah Forum Lingkar Pena wilayah Lampung. Aku berharap tulisanku bisa menjadi ladang amal bagiku.

Itu tadi cerita pengalamanku tentang latihan kepenulisan FLP. Semoga bisa membatumu untuk menentukan pilihan. Sampai jumpa lagi. Bye...bye...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OPPO F5, Camera Selfie For Travelers (OPPO Selfie Tour with F5)

OPPO F5 Camera Selfie For Travelers Hallo sobat! Cerita tetang HP emang gak ada habisnya. Selalu saja ada teknologi baru yang di...